Image Image Image Image Image

© Anatman Pictures 2013 | Indonesian Documentary Production Company

Scroll to Top

To Top

Documentary Film

A Plastic Ocean (2016)

On 06, Oct 2017 | No Comments | In Documentary Film, Film Review | By FIKRI

Director           : Craig Leeson

Writers            : Mindy Elliott (additional writing), Craig Leeson

Apa jadinya jika Adam dan Eve tak terbujuk serpent untuk memakan apel?

Bumi tanpa plastik.

Saya percaya semua spesies punya dua misi selama hidupnya: 1) Bertahan hidup, 2) Meneruskan spesiesnya. Berbeda dengan spesies lainnya, hampir semua manusia merasa hasil evolusi berupa akal pikiran adalah karunia dari tuhan. Premis spesies lain hanya bergantung pada insting, menjadikan manusia pongah merasa jauh lebih superior daripada spesies lain.

Ajaran dalam kitab suci yang diterjemahkan semena-mena berubah menjadi resep buruk. Dengan segala ketakutannya terhadap kematian, manusia merasa bahwa dunia ini diciptakan hanya untuk spesiesnya, sedangkan spesies lain hanya media untuk bertahan hidup. Setiap hari manusia mengeksploitasi tiap jengkal bumi untuk kemaslahatan umat.

Setelah menonton Plastic Ocean, saya merasa malu akal pikiran yang melengkapi insting, hanya dipakai untuk menyebar partikel plastik di bumi. Kita semua paham jika plastik hampir tidak bisa terurai. Meminjam bait puisi Sapardi, “Yang fana adalah waktu, plastik abadi”. Sejak ditemukan pada 1905, aktivitas manusia tak bisa lepas dari plastik. Mulai dari hal yang kecil seperti tas kresek belanjaan toko kelontong, hingga penggunaan dalam skala raksasa.

Saat ini penggunaan material plastik di negara-negara Eropa Barat mencapai 60 kg/orang/tahun, di Amerika Serikat mencapai 80kg /orang/tahun, sementara di India hanya 2 kg/orang/tahun. Berdasarkan data Jambeck (2015), Indonesia berada di peringkat kedua dunia penghasil sampah plastik ke laut yang mencapai sebesar 187,2 juta ton setelah Cina yang mencapai 262,9 juta ton. Dengan jumlah angka yang fantastis, apalagi ditambah dengan slogan ‘Indonesia adalah negara maritim’, saya tak bisa membayangkan akan seperti apa laut Indonesia 100 tahun lagi.

Dampaknya, karena saya tak bisa menggunakan kata umpatan dan makian di sini, luar biasa. Saya yakin kamu pernah melihat penyu memakai kalung plastik di lehernya. Saya yakin kamu pernah melihat sirip lumba-lumba tersangkut di sampah plastik. Saya yakin kamu pernah melihat perut burung penuh dengan tutup botol, pecahan plastik, dan lain-lain. Doakan saja anak cucu masih bisa melihat ikan kerapu dan ikan kakap di buku pelajaran, bukan di museum.

Jika setelah menonton Plastic Ocean kamu, secara sadar, masih membuang sampah sembarangan, maka saya tak tahu obat apa yang bisa menyembuhkan pola berpikirmu.

Atau memang mungkin manusia harus dikembalikan ke asalnya, spesies bersel satu di laut?

 

 

Tags | , , , , , , , , ,

Submit a Comment