A Tale of the Stolen River
Logline
Sebuah keluarga dari masyarakat adat Balik di Kalimantan Timur memiliki ikatan yang kuat dengan air dan tanah. Namun, ikatan sakral itu kini terusik oleh pembangunan ibu kota baru Indonesia.
Ikhtisar
- Durasi
- 28 menit 33 detik
- Genre
- Dokumenter · ibu kota baru dan warga Sepaku
- Bahasa
- Bahasa Indonesia
- Sutradara
- Mahatma Putra
- Produser
- Muttaqiena Imaamaa · Permata Adinda
- Rumah produksi
- Anatman Pictures
- Lokasi
- Sepaku, Kalimantan Timur, Indonesia
- Selesai produksi
- 10 Maret 2025
Sinopsis
Syamsiah dan Pandi menjalani hidup yang sederhana namun berkecukupan. Bersama anak dan cucu mereka, keduanya hidup tenang di Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Namun ketenangan itu terusik oleh kabar bahwa ibu kota baru Indonesia akan dibangun di tanah kelahiran mereka. Alat berat kini lalu-lalang di depan rumah. Bising kendaraan proyek tak lagi bisa dihindari. Ancaman yang lebih besar membayangi: proyek pembangunan itu mengancam merampas tanah dan air mereka. Bagaimana hidup mereka akan berjalan di tengah ketidakpastian yang terus bertambah?
Ini bukan film advokasi. Film ini mengajak penonton masuk ke ritme keseharian dua orang ketika tanah di bawah kaki mereka bergeser.

A Tale of the Stolen River
Still film







Mahatma Putra
Catatan sutradara
Aku tumbuh di Bontang, Kalimantan Timur, sekitar dua ratus kilometer dari Titik Nol IKN, di dalam kompleks perumahan tertutup milik perusahaan pupuk tempat orang tuaku bekerja: berpagar, dijaga, dan hampir semua penghuninya orang Jawa. Anak-anak setempat, kebanyakan Bugis dan Dayak, jarang masuk ke sekolah kami, dan kalaupun masuk, mereka diperlakukan sebagai murid kelas dua. Aku hidup di dalam keterasingan itu jauh sebelum aku punya kata untuk menyebutnya.
Berita utama tentang ibu kota baru membahas pemakaian air, satwa liar, dan kegagalan perencanaan. Film ini tidak membahas itu. Film ini mengikuti apa yang sungguh dijalani orang Balik: perasaan, rutinitas sehari-hari, mimpi buruk. Penonton diajak duduk di dalamnya, bukan didorong untuk memihak.
— Mahatma Putra
A Tale of the Stolen River
Karakter

Syamsiah & Pandi
Suami dan istri
Syamsiah dan Pandi adalah mantan ketua RT. Meski sudah tidak menjabat, mereka masih sering mendengarkan keluhan warga. Saat proyek intake Sepaku dimulai, mereka bersama warga menyusun surat pernyataan untuk dikirim kepada pihak berwenang. Kini halaman depan rumah mereka menjadi tempat berkumpul tetangga, masyarakat adat, aktivis, dan jurnalis yang punya kekhawatiran yang sama tentang pembangunan ibu kota baru, yang kian mendekat dan merampas sumber penghidupan mereka.

Randi
Putra Syamsiah & Pandi
Randi ingin belajar film dan fotografi. Ia satu dari lima orang di lingkungannya yang berkesempatan menghadiri upacara Hari Kemerdekaan pertama di ibu kota baru (IKN). Di sana, ia hanya bisa menonton dari layar kecil di luar area acara. Randi datang ke perayaan Hari Kemerdekaan di IKN membawa kameranya, merekam interior "estetik" yang terasa seperti dunia lain dibanding rumahnya, yang hanya berjarak beberapa kilometer.
Sepaku, Kalimantan Timur
Lokasi
Pembangunan IKN (Ibu Kota Nusantara) diproyeksikan menelan biaya sekitar Rp466 triliun. Awalnya pemerintahan Presiden Jokowi menjanjikan pembangunan ini tidak akan membebani APBN dan akan bertumpu pada investasi swasta, baik dalam maupun luar negeri. Namun minat investor lebih rendah dari perkiraan, sehingga APBN dipakai untuk menutup biayanya.
Di sisi lain, pembahasan pembangunan kota baru yang berfokus pada soal penguasaan ruang memunculkan kekhawatiran utama: tampak jelasnya benturan antara pembukaan lahan baru dan pelestarian lingkungan, serta dampaknya bagi masyarakat setempat. Menurut Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), pembangunan IKN berpotensi menggusur 20.000 warga adat dari 21 kelompok etnis dari tanah leluhur mereka.
Selain itu, tercatat bahwa lahan yang diperuntukkan bagi IKN memuat sedikitnya 94 bekas lokasi tambang. Koalisi #BersihkanIndonesia menyatakan kekecewaan karena korporasi tampak punya daya tawar lebih besar dalam negosiasi dengan pemerintah dibanding warga biasa, yang kerap tidak dilibatkan atau tidak punya akses ke informasi penting.
Salah satu kelompok yang paling terdampak adalah Suku Balik. Mereka telah tinggal di wilayah Kecamatan Sepaku sejak masa kolonial Belanda. Identitas mereka lekat dengan sungai, dan nama mereka mencerminkan masa lalu yang berpindah-pindah: “Balik” berarti pergi lalu kembali ke tempat yang sama. Berasal dari Balikpapan (dulu Tanjung Gonggot), orang Balik bermigrasi karena perladangan berpindah lewat jalur air, menyusuri Teluk Balikpapan lalu memasuki Sungai Sepaku.
Pada 26 Agustus 1975, pemerintah resmi menetapkan Sepaku sebagai wilayah transmigrasi, yang sebagian besar mendatangkan pendatang dari Jawa. Arus penduduk baru ini perlahan mengikis semarak budaya masyarakat Balik, disusul masuknya pembangunan komersial. Seiring makin tajamnya persoalan sosial, orang Balik makin enggan menunjukkan identitas etnis mereka.
Dan ketika proyek IKN dimulai, saat itu pula kehidupan orang Balik tercerabut: kearifan lokal mereka, kepercayaan mereka, dan sumber penghidupan mereka.


A Tale of the Stolen River
Tim produksi & kredit
With
- Syamsiah
- Pandi
- Dewi
- Cici
- Randy
- Mustafa
- Rawan
Special thanks
- Evi Mariani
- Alfa Gumilang
- Ahmad Seny
- Pitono
- Warga Desa Sepaku
Director
- Mahatma Putra
Producer
- Muttaqiena Imaamaa
- Permata Adinda
Executive producer
- Yuliasri Perdani
Supervisor
- Fahri Salam
- Ricky Yudhistira
Field supervisor
- Adrian Mulya
Assistant producer
- Frederica Nancy
Director of photography
- Mahatma Putra
- Lidwina Audrey
Assistant director
- Lidwina Audrey
Writer
- Mahatma Putra
Editor
- Fahrizal Mohammad
- Mahatma Putra
- Jason Rafael Chandra
Audio engineer & SFX
- Hari Kurnia
Post producer
- Anggita Panji Nayantaka
Legal
- Nurdiyansah Dalidjo
Subtitle
- Dominique Renee
- Frederica Nancy
Poster & press kit design
- Zain Aura Al-Zahir
- Erin Ruth
A Tale of the Stolen River


