HEADER3.jpg

SINOPSIS

Diam & Dengarkan (Be Quiet & Listen) adalah film dokumenter yang lahir dari renungan di masa pandemi Covid-19. Tentang nilai kesadaran universal. Untuk membawa dan mewujudkan keberadaan kita sebagai spesies. Menyadari ilusi keberadaan individu. Sadarilah hubungan Anda dengan Semesta.

 

Dengan memahami energi kesadaran kolektif, kita semua bisa bangun dari tidur panjang kita. Untuk menyadari bahwa kita masing-masing dapat melakukan sesuatu untuk bumi ini. Sekarang.

 

Diam & Dengarkan (Be Quiet & Listen) benar-benar sebuah karya kolektif kemanusiaan.

SYNOPSIS

Diam & Dengarkan (Be Quiet & Listen) is a documentary born of contemplation during the Covid-19 pandemic. About the value of universal consciousness. To bring and realise our existence as a species. Realising the illusion of individual existence. Be aware of your connection to the Universe.

By understanding the energy of collective consciousness, we all can wake up from our long sleep. To realise that each of us can do something for this earth. Right now.

 

Diam & Dengarkan (Be Quiet & Listen) is truly a collective work of humanity.

Full Movie (Indonesian Release)

Screen Shot 2022-02-25 at 12.25.03.png

OVERVIEW

ANATMAN PICTURES ORIGINAL

GENRE:

Documetaries

RUNNING TIME & FORMAT:

84 Minutes High Definition (HD)

LANGUAGE:

Indonesian

DISTRIBUTION:

Youtube, Vimeo & Instagram under Creative Common License.

Screen Shot 2022-02-25 at 12.18.42.png

LATAR BELAKANG

Diam & Dengarkan atau Serial Heal the World adalah project yang tercetus pada saat awal pandemi. Sebagai sebuah perusahaan, Anatman Pictures juga merasakan dampak dari pandemi, tidak ada pekerjaan komersial yang masuk. Akhirnya, kami memutuskan untuk membuat sebuah serial dokumenter yang sebenarnya sudah saya pikirkan sejak lama. Sebuah dokumenter yang menyampaikan pesan-pesan mengenai lingkungan yang dibuat untuk audiens Indonesia. Akhirnya, ide tersebut terealisasi di saat yang unik seperti ini. 

Yang menarik, ternyata respon yang kami terima dari episode pertama sangat baik. Dalam perjalanannya, banyak pihak yang bersedia untuk membantu dan terlibat dalam serial dokumenter ini. Sampai akhirnya, kami memutuskan untuk membuat film panjang, sebuah omnibus, agar pesan-pesan dari seluruh episode yang ada bisa tersampaikan dengan baik tanpa terputus.

Saat pandemi, kami yang biasanya syuting, jadi tidak bisa ke mana-mana dan hanya bisa melakukan wawancara melalui aplikasi Zoom. Karena tidak bisa mengambil b-roll, kami hanya bisa memakai footage public domain, creative common, menggunakan asas Fair Use, dan menerapkan pengetahuan tentang copyright kami di sini.

Kami juga menggunakan motion graphic dan infografis untuk membantu penonton supaya lebih gampang mencerna informasi. Satu yang harus kami maksimalkan agar production value-nya tetap terjaga adalah kualitas audionya. Sound design dan scoring music tetap kami olah sebaik mungkin layaknya produksi kami dalam situasi normal.

Narasi menjadi hal yang penting untuk ditonjolkan. Untuk pemilihan narasumber, kami meminta bantuan kepada orang-orang yang kredibel di bidangnya. Bersyukur kemudian banyak aktor dan aktris yang sama-sama peduli, dan mau berkontribusi untuk menjadi narator di film ini. Emosi dari pesan-pesan yang ada dibawakan dengan sangat menyentuh.

Kalau mau jujur, sebenarnya semua pengetahuan yang ada di serial dokumenter ini tidak ada yang baru dan orisinil. Film ini hanya  berisi pengetahuan umum yang populer, merangkum fenomena yang ada dan disesuaikan dengan audiens Indonesia. Tujuan kami hanya ingin meneruskan suara-suara yang ada di alam semesta ini. Suara-suara orang yang memperjuangkan lingkungan. 

Kami menggunakan lisensi creative commons untuk Diam & Dengarkan, dan Anatman Pictures tidak mengklaim copyright dari film ini. Kami tidak me-monetize ataupun mengambil keuntungan dari film dan serial dokumenter ini.


Kami ingin semua teman-teman yang menonton dokumenter ini, bisa meneruskan pesan yang mereka dapat dengan cara apapun yang mereka mau. Semua orang boleh men-download film ini, semua orang boleh mem-publish ulang di channel masing-masing, semua orang boleh mengedit ulang, karena Diam & Dengarkan, juga Heal the World adalah karya kolektif kita bersama. Karya kolektif umat manusia.

-Mahatma Putra

Founder, Anatman Pictures

Screen Shot 2022-02-25 at 12.18.52.png

CHAPTER 1

NARRATED BY CHRISTINE HAKIM

Homo sapiens means a wise human. 

 

This opening chapter sparked awareness of human existence as a species that "rule the earth", apparently only a small part of the cosmic dust. The audience is invited to reflect on their own existence and contemplate the condition of the earth, with a point of view that have been rarely used.

 

A pandemic that leaves plenty of time for reflection, is the starting point for our new journey as a species. 

 

Subjects:

Reza Gunawan - Holistic Health Practitioner

Adeline Windy - Wellness Coach

Ryu Hasan - Neuroscientist

NARRATED BY DENNIS ADISHWARA

An old Roman proverb says "Mens Sana in Corpore Sano" which means a healthy soul in a strong body. However, what happens if the soul in the body is not healthy? Why do we need to nourish the soul? Is the soul as important as the body?

 

The second chapter will tell how humans interact with other parts of themselves. The part of him that is so vital that he is able to do almost anything to him, which is mental. Recognizing how our mental work, can keep our sanity and will help us to understand ourselves as a spiritual being.

Subjects:

Reza Gunawan - Holistic Health Practitioner

Adeline Windy - Wellness Coach

Ryu Hasan - Neuroscientist

Ngatawi Al-Zastrouw - Islamic Practitioner

Screen Shot 2022-02-25 at 12.55.32.png

CHAPTER 2

Screen Shot 2022-02-25 at 12.55.39.png

CHAPTER 3

NARRATED BY ARIFIN PUTRA

We live in the era of plastic. Almost all the items we use are made of plastic. We could say that plastic has become part of humanity itself. 

 

Various ease and benefits that it offered make people continue to produce plastic. Until finally, plastic became one of the biggest threats of the earth and became a problem that must be faced by humans. However, did you know that at first, plastic was created to save the earth?

 

Subjects:

Ramadian Bachtiar - Marine Biologist

M. Reza Cordova - LIPI Researcher

Moh. Junerosano - Waste4Change

NARRATED BY EVA CELIA

Did you know that water is not native to the earth? Water is the most beautiful gift from the universe to us. Coming from outer space, it brings life to all earth’s creatures including humans. 

 

Water is vital to many aspects of human life, including fashion and beauty. Our efforts to look perfect also need water in the process. However, again because of human greed, the water turns dirty. For the sake of following the standards of beauty that keep on changing, humans actually damage the beauty that the universe gives us.

 

Subjects:

Didiet Maulana - Entrepreneur

Novita Anggraini - Water Researcher

Dewi Kauw - Skin Dewi

Afif Musthapa - Upcycle Practitioner

Screen Shot 2022-02-25 at 13.22.04.png

CHAPTER 4

CHAPTER 5

NARRATED BY NADINE ALEXANDRA

Forests are the meeting point of many living things on Earth. In a way, the forest is the center of life from life itself. However, why do more people live in cities? Is what the forest provides for us still lacking?

 

Heal the World episode 5: Interbeing will tell you how the forest that we thought was a place that only contains trees and wild animals, is actually a place that has everything that is needed for all living things, including us, humans.

Subjects:

Butet Manurung - Sokola Rimba

Salsabila Khairunisa - Youth Activist

Ir. Wiratno, M.Sc - Indonesian Ministry of Environment & Forestry

NARRATED BY ANDIEN AISYAH

 

This closing chapter discusses the issue of social disparities between countries and the importance of a planet-friendly diet which is one of the keys to save the earth.

 

That taking care of the small universe, namely oneself, is a direct reflection of taking care the big universe.

 

Samudra Cinta invites us to self-reflect, give a rise to our individual awareness, and create a collective consciousness.

 

Subjects:

Helga Angelina & Max Mandias - Burgreens

Prajna Murdaya - Shoemaker Studio

Anda Wardhana - Omah Wulangreh

Tjok Gde Kerthyasa - Tirta Usada

Screen Shot 2022-02-25 at 13.28.18.png

CHAPTER 6

PRESS RELEASE

Be Quiet & Listen film was released to the public on 27 June 2020, under a Creative Commons License. In one month of the publication on Youtube, Be Quiet & Listen organically reached 1 million views. Until this press release date (7 September 2020), Be Quiet & Listen has reached 1.8 million organic views on YouTube.

 

Be Quiet & Listen series have been created with zero production capital, and are not monetized. All production and post-production processes were carried out online. All participants, resource persons, narrators, and even the online event organizer for Be Quiet & Listen and volunteers who contributed their ideas, time and energy for this collective work, volunteered their time.

 

This film is a narrative of environmental awareness for Indonesian society. The message conveyed is a simple widespread knowledge about the environment - which is already popular with international audiences - but still not widely known by the Indonesian public.

 

Anatman Pictures, as the creator of this film, hopes that this message about the environment is spreading among Indonesian audiences and possibly International audiences that lack the basic knowledge about the environmental issues. There are so many local Indonesian pearls of wisdom - which are very nature-centric - but are eroded by the hegemony of popular culture and the "imported" belief system". Hopefully this film can become a trigger for the Indonesian people to revisit the local gems ​​buried in their own yard.

Yang menarik, ternyata respon yang kami terima dari episode pertama sangat baik. Dalam perjalanannya, banyak pihak yang bersedia untuk membantu dan terlibat dalam serial dokumenter ini. Sampai akhirnya, kami memutuskan untuk membuat film panjang, sebuah omnibus, agar pesan-pesan dari seluruh episode yang ada bisa tersampaikan dengan baik tanpa terputus.

Saat pandemi, kami yang biasanya syuting, jadi tidak bisa ke mana-mana dan hanya bisa melakukan wawancara melalui aplikasi Zoom. Karena tidak bisa mengambil b-roll, kami hanya bisa memakai footage public domain, creative common, menggunakan asas Fair Use, dan menerapkan pengetahuan tentang copyright kami di sini.

Kami juga menggunakan motion graphic dan infografis untuk membantu penonton supaya lebih gampang mencerna informasi. Satu yang harus kami maksimalkan agar production value-nya tetap terjaga adalah kualitas audionya. Sound design dan scoring music tetap kami olah sebaik mungkin layaknya produksi kami dalam situasi normal.

Narasi menjadi hal yang penting untuk ditonjolkan. Untuk pemilihan narasumber, kami meminta bantuan kepada orang-orang yang kredibel di bidangnya. Bersyukur kemudian banyak aktor dan aktris yang sama-sama peduli, dan mau berkontribusi untuk menjadi narator di film ini. Emosi dari pesan-pesan yang ada dibawakan dengan sangat menyentuh.

Kalau mau jujur, sebenarnya semua pengetahuan yang ada di serial dokumenter ini tidak ada yang baru dan orisinil. Film ini hanya  berisi pengetahuan umum yang populer, merangkum fenomena yang ada dan disesuaikan dengan audiens Indonesia. Tujuan kami hanya ingin meneruskan suara-suara yang ada di alam semesta ini. Suara-suara orang yang memperjuangkan lingkungan. 

Kami menggunakan lisensi creative commons untuk Diam & Dengarkan, dan Anatman Pictures tidak mengklaim copyright dari film ini. Kami tidak me-monetize ataupun mengambil keuntungan dari film dan serial dokumenter ini.


Kami ingin semua teman-teman yang menonton dokumenter ini, bisa meneruskan pesan yang mereka dapat dengan cara apapun yang mereka mau. Semua orang boleh men-download film ini, semua orang boleh mem-publish ulang di channel masing-masing, semua orang boleh mengedit ulang, karena Diam & Dengarkan, juga Heal the World adalah karya kolektif kita bersama. Karya kolektif umat manusia.

 

 

 

-Mahatma Putra

Founder, Anatman Pictures

NEWS
COVERAGE
&faq

NEWS COVERAGE

 

 

FREQUENTLY ASKED QUESTIONS

a. Seperti yang dinyatakan Mas Putra sendiri, rasanya tak ada informasi baru di dalam Diam dan Dengarkan jika sudah pernah menonton film dokumenter serupa yang sudah cukup dikenal. Tapi, yang menarik buat saya adalah film ini dibuat dalam Bahasa Indonesia, dengan footage yang sebagian sangat dekat dengan kita, sehingga sangat mungkin film ini bisa terhubung dan menyentuh lebih banyak orang Indonesia. Apakah Mas Putra memang melihat adanya kekurangan materi tentang kesadaran lingkungan dalam Bahasa Indonesia sehingga memutuskan membuat film ini?

 

Iya betul. Sangat kurang media film dokumenter populer di Indonesia, dalam bahasa Indonesia, untuk audiens Indonesia. Kebanyakan film-film dokumenter lingkungan bagus yang saya tonton ada di Netlfix, dan tidak semua orang punya kartu kredit untuk bisa berlangganan netflix.

 

Saya beruntung senang baca buku non fiction. Dan sebenarnya informasi-informasi yang ada di film ini itu sudah bertebaran di mana-mana, di toko buku, bahkan di youtube dan social media lain sudah banyak sekali informasi2 itu. Namun noise yang ada di kehidupan sehari-hari kita terlalu banyak, sehingga susah memfilter informasi yang bermanfaat. Diam & Dengarkan hanya merangkung pengetahuan dan fenomena-fenomena yang terjadi.

 

b. Disebutkan bahwa Covid-19 membuat Anatman Pictures kehilangan pekerjaan komersial. Mengapa lantas membuat Diam dan Dengarkan yang tak dimonetisasi? 

 

Diam & Dengarkan memang adalah project idealis kami yang juga ingin kami sebarkan dengan cara yang idealis. Saya sendiri paling tidak suka nonton di Youtube terus terganggu dengan iklan-iklan. Kalau diperhatikan, dari awal sampai akhir tidak ada iklan sama sekali. Tidak ada unskippable dan skippable ads, tidak ada iklan di tengah2 saat pergantian chapter.

 

Sejak awal kami menggunakan lisensi Creative Common, yang artinya setiap orang boleh mengunggah, mengedit ulang dan publish ulang di platform apa pun. Karena yang penting itu informasinya, pesannya bisa diserap orang sebanyak-banyaknya.

 

Gambar-gambar yang kami pakai sudah jelas semuanya bukan milik kami, kami menggunakan azas Fair Use, menggunakan banyak gambar public domain dan creative commons, dan menerapkan pengetahuan kami tentang hukum copyright. 

 

Kemudian kami juga dapat bantuan tenaga dari beberapa aktris dan aktor, juga banyak sekali pihak yang memang mau volunteer di project ini, tanpa bayaran apapun. Memang niatnya tulus, lahir dari kecintaan terhadap lingkungan. Klise memang ya, tapi ya memang benar yang mendorong kita dan mereka semua ya rasa cinta itu. 

 

Film ini karya kolektif kita bersama sebagai umat manusia, bukan karya saya atau Anatman Pictures. Kalau diperhatikan bahkan tidak ada titel sutradara di film ini, karena saya benar-benar menganggap alam semesta yang menggerakkan kita semua, dan jadi sutradara utamanya. Lagi-lagi terdengar klise dan picisan ya, tapi ya memang itu pengalaman pribadi dari merenung, diam dan mendengarkan suara hati, suara Ibu Bumi, sampai akhirnya sadar, Diam & Dengarkan ini betul-betul hasil dari diam & mendengarkan.

 

c. Berapa lama pembuatan tiap chapter? Apakah tema setiap episode sudah ditentukan sejak awal atau ditentukan setelah satu episode sebelumnya selesai?

 

Pertama kali saya dapat ide ini, kemudian langsung saya bagi jadi 6 chapter. Menulis kerangka besarnya sangat cepat. Hanya 30 menit. Setelah itu saya langsung ajak semua tim Anatman untuk diskusi zoom call dan coba cari cara recording wawancara online.

 

Cerita lucu sebenarnya. Saat saya hampir selesai menulis chapter 6, yaitu chapter penutup dari film ini, saya sadar, ternyata saya sudah pernah menulis kerangka dan cerita yang sama dulu di tahun 2017. Waktu itu saya sudah membuat teaser bahkan di Youtube, bahwa di tahun 2019 kita akan merilis film berjudul Surat Cinta Untuk Bumi. Namun ternyata malah tidak pernah terealiasi karena sibuk mengerjakan pekerjaan komersial sehari-hari.

 

Saat selesai menulis chapter terakhir itu saya benar-benar kaget. Kenapa tidak saya buka saya dokumen tahun 2017 itu? Hehe. Namun memang konteksnya agak berbeda karena ini memang berdasarkan perenungan di masa pandemi. Mungkin saya menulis kerangka awal sangat cepat ya karena sebenarnya sudah pernah saya tulis sebelumnya, cuma lupa.

 

d. Bagaimana cara memproduksi film dokumenter ini di tengah kondisi pandemi dan harus berjarak jauh? Terutama untuk urusan mengarahkan narator agar selaras dengan alur cerita.

 

Sebetulnya malah sangat mudah bagi kami untuk bisa mendapatkan para narasumber yang expert di bidangnya dengan wawancara via online ini. Karena banyak narasumber yang berada di luar Jakarta yang akhirnya malah bisa dengan mudah kami wawancara. Misalnya Butet Manurung yang sedang berada di Canberra, dan Prajna Murdaya yang sedang berada di Singapura.

 

e. Apakah menyusun alur cerita dulu lalu menemukan narasumber yang tepat atau menyusun cerita berdasarkan hasil wawancara dengan narasumber? Apa saja pertimbangan saat memilih narasumber?

 

Alur cerita dulu. Baru kami pilih narasumber yang bisa mendukung statement dan jalan cerita film tersebut.

 

f. Mengapa penting menghadirkan narasumber yang beragam dan sungguh berbeda latar belakangnya? Ada budayawan, artis, hingga konglomerat. 

 

Penting sekali. Karena setiap narasumber punya kapasitasnya masing-masing, yang tidak tergantikan oleh narasumber-narasumber lain. Budayawan tidak akan kompeten untuk bicara tentang polusi plastik dibandingkan biolog kelautan yang memang setiap hari riset tentang polusi di laut.

g. Selalu ada perdebatan di media sosial setiap kali topik semacam "Human is the virus" muncul. Mereka yang kontra mengatakan bukan semua umat manusia yang menjadi virus bagi bumi, tapi kapitalisme lah yang membuat permasalahan lingkungan begitu masif dan membahayakan. Bagaimana pendapat Mas Putra tentang hal ini?

 

Menurut saya kita sebagai individu, bertanggung jawab penuh terhadap segala pilihan kita sehari-hari. Dan segala pilihan-pilihan kecil itu, nantinya berdampak besar sekali terhadap bumi dan lingkungan kita. “Ah, cuma makan junk food kok”, atau “Ah, cuma satu lampu menyala”, atau “Ah, cuma satu kantung kresek”, dan akan selalu ada pikiran seperti itu. Sering kita menganggap diri kita tidak berdaya, hanya satu skrup kecil di mesin raksasa kapitalisme, sehingga apapun yang kita lakukan sepertinya tidak ada manfaatnya. 

 

Lucu sebenarnya. Di satu sisi kita merasa diri kita sangat istimewa di bumi ini, kita menganggap kitalah pemilik jagat raya ini, kita eksploitasi sebanyak-banyaknya demi kenyamanan kita. Namun di saat yang sama, kita merasa diri sangat kecil dan tidak berarti, dan selalu menyalahkan sistem kalau ada apa-apa yang salah dengan dunia ini. Padahal ya kita ini nyatanya adalah bagian sistem itu sendiri.

 

Dengan film ini ada kacamata baru lho. Kita memang kecil, hanya debu kosmik penghuni bumi, kita ini ngga penting-penting amat lho di dunia ini, kenyamanan hidup kita itu bukan yg utama. Kita hanya setetes air di samudra, hanya satu skrup di mesin raksasa kapitalisme. Namun samudra itu ya sebenarnya kan hanyalah kumpulan dari tetes-tetes air itu sendiri. Coba deh, semua skrup keluar dari mesinnya. Hancur juga mesin raksasa itu. 

 

Jadi memang film ini ingin membalik cara pandang yang sudah mengakar di diri kita masing-masing sejak kecil.

 

h. Bagaimana respons masyarakat saat Diam dan Dengarkan dirilis? Respons apa yang paling berkesan bagi Mas Putra dan tim?

 

Respons yang sangat berkesan sebenarnya saat proses pembuatannya, saat banyak yang bersedia membantu untuk menjadi narasumber kami, menjadi narator, membantu membuatkan kami musik untuk film ini, membantu bikin webinar, membantu volunteer jadi menyebarkan pesan kebaikan ini.

 

Saat film dirilis juga kami terharu banyak komentar positif di kolom komentar Youtube. Bahwa banyak yang tersentuh hatinya dengan film ini.

 

i. Film ini diberi lisensi creative commons agar siapa saja dapat mengunggah ulang bahkan mengedit. Sejauh ini, apakah sudah ada karya yang menanggapi film Diam dan Dengarkan?

 

Iya. Ada beberapa yang tag kami di Instagram, mereka membuat potongan cuplikan-cuplikan yang menarik bagi mereka, ada yang minta izin mau bikin reaction video, ada beberapa yang download dan upload ulang full movie nya di channel mereka masing-masing, bahkan ada orang Jerman yang tibak-tiba kontak kami dan mau volunteer bikin subtitle bahasa Jerman. Kami malah sangat berterima kasih kepada mereka yang bersedia menyebarkan pesan-pesan ini dengan cara mereka masing-masing.

 

j. Selain film, ada juga situs diamdengarkan.com yang berisi rekomendasi film serta link donasi. Apakah memang direncanakan sejak awal bahwa film ini akan disertai juga dengan situs pendukung? Bagaimana Anatman Pictures memilih lembaga atau film apa saja yang layak ditampilkan dalam situs ini?

 

Sejak awal kami memang berpikir, setelah menonton & tersentuh, lalu mereka harus berbuat apa? Di website ini kami beri rekomendasi film yang menurut kami bagus dan jauh lebih dalam dalam mengangkat issue lingkungan. Karena Diam & Dengarkan issuenya memang general, tidak mendalam dan tidak unik sebenarnya. Banyak yang email kami dan memberikan rekomendasi gerakan-gerakan dan lembaga-lembaga penggiat lingkungan, kami masukkan semuanya ke dalam laman web kami. Karena tidak perlu bagi kami untuk bikin gerakan baru lagi, kami hanya mau meneruskan kampanye2 lingkungan yang sudah ada. Dan tiap orang bisa berbuat sesuatu dengan caranya masing-masing. Ada yang bisa donasi tanam pohon, yang tergerak untuk merawat bumi lewat pola makan ada kampanye vegetariannya Burgreens, yg tergerak lewat plastik ada kampanye pilah sampahnya Waste4Change dll.

 

k. Apa rencana selanjutnya setelah merilis film dan situs Diam dan Dengarkan? Apakah ini direncanakan akan menjadi sebuah gerakan?

 

Tidak. Kami hanya ingin mendukung banyak gerakan-gerakan yang sudah ada dan semua film-fim dokumenter Indonesia yang sudah ada supaya ditonton makin banyak orang. Misalnya ada Sexy Killers, Semes7a, tonton itu, kemudian ikut gerakan yang ada macam-macam itu di web kami sudah kami list. Dan kalau ada saran film/gerakan apa yang harus masuk bisa email kami.

 

Tentang Anatman Pictures & Mahatma Putra:

a. Kapan pertama kali membuat dokumenter?

 

Saya belajar fotografi jurnalistik pada tahun 2006 di Galeri Foto Jurnalistik Antara, namun kemudian makin sadar bahwa niat utama saya adalah audio visual, gambar bergerak. Sehingga nilai dokumenternya memang kental dari GFJA.

 

b. Mengapa dokumenter?

 

Tahun 2011 saya berkesempatan ikut program fellowship di PPIA-VOA, untuk bekerja sebagai video journalist selama satu tahun di Voice of America, Washington DC. Di situ saya benar-benar yakin dengan spesialisasi di bidang dokumenter. Walaupun sebenarnya saya juga sering bikin film pendek naratif, terutama untuk pekerjaan komersial.

 

c. Kapan pertama kali terketuk untuk menjaga bumi? Bagaimana latar belakangnya?

 

Tidak ada satu momen istimewa ya. Semuanya akumulatif, terkumpul pelan-pelan dengan makin banyaknya referensi dan kedalaman pengetahuan dari buku-buku dan film-fim non-fiction tentang lingkungan yang memang sangat menarik bagi saya. Semua pengetahuan-pengetahuan itu membuat saya sadar, bahwa saya adalah bagian yang tidak terpisahkan dari alam ini. Kalau harus ada satu titik balik, mungkin itu di Oktober 2011, saat saya memutuskan untuk jadi vegetarian sampai sekarang.

 

d. Sebelum Diam dan Dengarkan, sudah ada beberapa dokumenter yang diproduksi Anatman Pictures tentang lingkungan, termasuk animasi anak Sampah Sandi. Apa saja cara yang dilakukan Anatman Pictures untuk menyebarluaskan film-film ini dan pesan di dalamnya? Bagaimana tanggapan yang masuk atas karya-karya sebelumnya itu jika dibandingkan dengan Diam dan Dengarkan? 

 

Anatman itu kan dari bahasa sansekerta, paling gampang artinya “tanpa diri”, yaitu saat kita sadar bahwa diri kita ini tidak pernah bisa berdiri sendiri, tanpa manusia lain, tanpa mahkluk lain, tanpa alam semesta ini. Tanpa oksigen, sudah jelas kita tidak bisa hidup, oksigen itu tapi kan sebetulnya kompleks sekali prosesnya sampai bisa kita hirup, melibatkan banyak sekali makhluk hidup, waktu dan keajaiban-keajaiban alam sejak zaman pra sejarah. Kesadaran bahwa kita semua itu saling berkaitan, kita semua makhluk di bumi ini bersaudara, itu sebenarnya kisah kesadaran yang selalu ingin diangkat oleh Anatman Pictures.

 

Setiap bulan kita selalu usahakan bikin dua film dokumenter pendek. Subsidi silang dari project komersial kita. Diam & Dengarkan ini memang yang resepsinya paling baik dibanding film-film dokumenter dan animasi-animasi lingkungan yang sudah kami bikin sebelumnya. Saya rasa karena terasa sekali energi kolektifnya dalam pembuatan Diam & Dengarkan ini, kebetulan juga momen bumi di 2020 ini pas sekali, memang waktunya kita untuk merenung. Waktu bagi kita semua untuk diam & mendengarkan pesan Ibu Bumi.

 

e. Menurut Mas Putra, apa tantangan terbesar di Indonesia untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan?

 

Tantangan utama sebenarnya bagaimana berpikir kritis dan melihat alam semesta apa adanya. Tidak terbalut nilai-nilai dan judgement2 personal kita. Kalau bisa melihat alam semesta apa adanya, rasa cinta terhadap bumi dan makhluk lain itu akan muncul dengan sendirinya. Tidak perlu doktrin ideologi apapun untuk bisa mencintai sesama, mencintai makhluk lain dan mencintai bumi ini.

International Version (Vimeo)

Production Team & Credits

Anatman Pictures Presents

DIAM & DENGARKAN

 

Created by Mahatma Putra

 

Narrated by:

ANDIEN AISYAH

ARIFIN PUTRA

CHRISTINE HAKIM

DENNIS ADHISWARA

EVA CELIA

NADINE ALEXANDRA

 

And listen to the

wisdom of these people

 

REZA GUNAWAN

ADELINE WINDY

RYU HASAN

NGATAWI AL ZASTROUW

MOCH REZA CORDOVA

RAMADIAN BACHTIAR

MOH. BIJAKSANA JUNEROSANO

DIDIET MAULANA

NOVITA ANGGRAINI

DEWI KAUW

AFIF MUSTHAPA

SALSABILA KHAIRUNNISA

JAGARIMBA

BUTET MANURUNG

HELGA ANGELINA

MAX MANDIAS

PRAJNA MURDAYA

ANDA WARDHANA

TJOK GDE KERTHYASA

​​​

Anatman Pictures

www.anatmanpictures.com

www.anatmanpictures.com.au

IG: @anatmanpictures

Vimeo: vimeo.com/anatman

YouTUbe: youtube.com/anatmanpictures 

Executive Producers:

Tasha May & Mahatma Putra

 

Producers:

Tasya Anindita

Anggita Panji Nayantaka

Dominique Renee Makalew

Ferdinand Louise

 

Written by:

Mahatma Putra

Fatihatul Insan Kamil Ramadhani Imama (FIKRI)

Abrian Maulana Azmi

Ismail Abdul Aziz

Fahrizal Mochammad

Rena Novia Savitri

 

Consulting Producers:

Helga Angelina

Ridhi Mahendra

 

Produced & Edited by:

Mahatma Putra

Abrian Maulana Azmi

Ismail Abdul Aziz

Fahrizal Mochammad

Rena Novia Savitri

 

Creative Departments:

Fatihatul Insan Kamil Ramadhani Imama (FIKRI)

Achmad Hasbiansyah
Daniel Dhirajati

 

Animation Departments::

Galih Wardani

Achmad Hasbiansyah

Kamaliatul Muchsinah

 

Music:

Aria Prayogi

Timothy Luntungan

 

Sound Design, SFX & Mixing Engineer:

Hari Kurnia